Pengaruh Penyaluran Kredit Mikro terhadap perkembangan UKM dibidang Industri Kreatif

Pengaruh Penyaluran Kredit Mikro terhadap perkembangan UKM dibidang Industri Kreatif

 

  1. PENDAHULUAN

Sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan usaha yang tangguh di tengah krisis ekonomi. Saat ini sekitar 99% pelaku ekonomi mayoritas adalah pelaku usaha UMKM yang terus tumbuh secara signifikan dan menjadi sektor usaha yang mampu menjadi penopang stabilitas perekonomian nasional. UMKM makin tahan banting dan tetap optimistis di tengah krisis. Ketika terjadi krisis global pelaku UKMKM tetap bergerak. Pemerintah telah memberikan upaya-upaya pemberdayaan berupa kebijakan, program dan kegiatan untuk semakin menguatkan sektor UMKM ini.

Namun upaya pemberdayaan tersebut belum memberikan hasil yang maksimal dan membawa daya ungkit (leverage) yang kuat bagi para pelaku UMKM pada khususnya, dan masyarakat pada umumnya.

Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM)  merupakan pelaku bisnis yang bergerak pada berbagai bidang usaha, yang menyentuh kepentingan masyarakat. Berdasarkan data BPS (2003), populasi usaha kecil dan menengah (UKM) jumlahnya mencapai 42,5 juta unit atau 99,9 persen dari keseluruhan pelaku bisnis di tanah air. UKM memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja, yaitu sebesar 99,6 persen. Semenrtara itu, kontribusi UKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 56,7 persen.

Dalam proses pemulihan ekonomi Indonesia, sektor UMKM memiliki peranan yang sangat stategis dan penting yang dapat ditinjau dari berbagai aspek. Pertama, jumlah industrinya yang besar dan terdapat dalam setiap sektor ekonomi.  Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2002, jumlah UMKM tercatat 41,36 juta unit atau 99,9% dari total unit usaha. Kedua, potensinya yang besar dalam penyerapan tenaga kerja. Setiap unit investasi pada sektor UMKM dapat menciptakan lebih banyak kesempatan kerja bila dibandingkan dengan investasi yang sama pada usaha besar. Sektor UMKM menyerap 76,55 juta tenaga kerja atau 99,5% dari total angkatan kerja yang bekerja. Ketiga, kontribusi UMKM dalam pembentukan PDB cukup signifikan yakni sebesar 55,3% dari total PDB.

Salah satu upaya peningkatan dan pengembangan UMKM dalam perekonomian nasional dilakukan dengan mendorong pemberian kredit modal usaha kepada UMKM.  Dari sudut perbankan, pemberian kredit kepada UMKM menguntungkan bagi bank yang bersangkutan. Pertama, tingkat kemacetannya relatif kecil. Hal ini terutama disebabkan oleh tingkat kepatuhan nasabah usaha kecil yang lebih tinggi dibandingkan nasabah usaha besar. Kedua, pemberian kredit kepada UMKM mendorong penyebaran risiko, karena penyaluran kredit kepada usaha kecil dengan nilai nominal kredit yang kecil memungkinkan bank untuk memperbanyak jumlah nasabahnya, sehingga pemberian kredit tidak terkonsentrasi pada satu kelompok atau sektor usaha tertentu. Ketiga, kredit UMKM dengan jumlah nasabah yang relatif lebih banyak akan dapat mendiversifikasi portofolio kredit dan menyebarkan risiko penyaluran kredit. Keempat, suku bunga kredit pada tingkat bunga pasar bagi usaha kecil bukan merupakan masalah utama, sehingga memungkinkan lembaga pemberi kredit  memperoleh pendapatan bunga yang memadai. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa ketersediaan dana pada saat yang tepat, dalam jumlah yang tepat, sasaran yang tepat dan dengan prosedur yang sederhana lebih penting dari pada bunga murah maupun subsidi.

Namun dari beberapa hal yang melatar belakangi seperti tersebut di atas, masih belum cukup menjadi landasan keyakinan bahwa pelaku UMKM akan mendapatkan kemudahan dalam hal pengajuan fasilitas kredit modal usaha ke lembaga-lembaga pemberi kredit baik perbankan maupun non perbankan.  Hingga saat ini masih banyak pelaku UMKM yang mengalami permasalahan dalam hal pengajuan kredit usaha.

2 TINJAUAN PUSTAKA

Menurut Sri Winarti (2004) dengan mempertimbangkan peran penting UMKM dalam berbagai aspek perekonomian dan dalam upaya percepatan pemulihan kegiatan ekonomi, Bank Indonesia memberikan dukungan dalam pengembangan UMKM. Dukungan Bank Indonesia ini termasuk juga dalam rangka mendorong pulihnya fungsi intermediasi perbankan dan menciptakan kondisi perbankan yang sehat.

Dalam rangka mendukung pemberdayaan dan pengembangan UMKM terutama dalam mendorong penyaluran kredit kepada UMKM, upaya Bank Indonesia antara lain melalui penerapan kebijakan kredit, pemberian bantuan teknis kepada UMKM melalui Konsultan Keuangan Mitra Bank, penelitian mengenai pola pembiayaan kepada UMKM, penyediaan sistem informasi pembiayaan usaha kecil dan pemberian bantuan teknis.

  1. PEMBAHASAN

3.1 Ekonomi Kreatif

Era ekonomi kreatif merupakan pergeseran dari era ekonomi pertanian, era industrialisasi, dan era informasi. Departemen perdagangan (2008) mendefinisikan ekonomi kreatif sebagai wujud dari upaya mencari pembangunan yang berkelanjutan melalui kreativitas, yang mana pembangunan berkelanjutana dalah suatu iklim perekonomian yang berdaya saing dan memiliki cadangan sumber daya yang terbarukan. Peran besar yang ditawarkan ekonomi kreatif adalah pemanfaatan cadangan sumber daya yang bukan hanya terbarukan, bahkan tak terbatas, yaitu ide, gagasan, bakat atau talenta, dan kreativitas.Ekonomi kreatif terdiri dari kelompok luas profesional, terutama mereka yang berada di dalam industri kreatif yang memberikan sumbangan terhadap garis depan inovasi. Mereka seringkali mempunyai kemampuan berpikir menyebar dan mendapatkan pola yang menghasilkan gagasan baru. Claire (2009) menulis tentang bagaimana menumbuhkan ekonomi kreatif di Tacoma, USA dengan menggunakan sebuah eksperimen yang diberi nama “Tacoma Experiment”.Dalam eksperimen ini direkrut 30 orang dengan latar belakang profesi dari berbagai bidang, diantaranya adalah dari bidang bisnis, pemerintahan, pendidikan,pekerja seni, dan bidang non-profit untuk bekerja selama setahun. Proses proyek eksperimen ini lebih kepada bagaimana 30 orang tersebut saling menjaga komunikasi antara satu dengan lainnya sehingga tercipta hubungan yang baik antara masing-masing orang.

Inti dari penelitian tersebut adalah sharing atau saling bertukar ide daninformasi antar individu dapat meningkatkan nilai kreativitas seseoarang. Nilai kreatifitas seseorang diyakini akan meningkat dengan adanya komunikasi tersebut. Hal ini sesuai dengan tujuan penelitian tersebut yang ingin menunjukkan bagaimana sebuah kota dapat menyatukan orang-orang dari berbagai bidang profesi, pebisnis, pemerintah, serta sektor-sektor non profit dalam menciptakan ekonomi kreatif yang lebih kuat. Penelitian tersebut cukup memberikan gambaran mengenai pengembangan ekonomi kreatif.Togar (2008) menambahkan situasi bisnis yang persaingannya paling kejam tergambarkan kepada kita dalam ekonomi kreatif. Apabila ingin terus tumbuh danberkembang, kelas kreatif di tidak pernah berpuas diri dan selalu mencari jalan untuk berinovasi. Kepandaian dalam membaca peluang, kecepatan menghadirkan produk dalam merebut peluang, kecermatan dalam memperhitungkan tingka trisiko berikut dengan rencana cadangan, kemampuan berkolaborasi dengan pihak lain, dan siasat yang jitu dalam menghadapi persaingan merupakan kunci sukses dalam industri ini. Oleh karena itu, ekonomi kreatif dapat dikatakan sebagaisistem transaksi penawaran dan permintaan yang bersumber pada kegiatan ekonomi yang digerakkan oleh sektor industri yang disebut Industri Kreatif.Industri kreatif merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ekonomi kreatif. Istilah industri kreatif sendiri memiliki definisi yang beragam. Definisi industri kreatif yang saat ini banyak digunakan oleh pihak yang berkecimpung dalam industri kreatif adalah definisi berdasarkan UK DCMS Task Force dalamPrimorac (2006) :

“Creative Industries as those industries which have their origin in individual creativity, skill and talent, and which have a potential for wealth and jobcreation through the generation and exploitation of intellectual property andcontent”. Departemen Perdagangan (2008) mendefinisikan industri kreatif sebagaiindustri yang berasal dari pemanfaatan kreatifitas, ketrampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan melalui penciptaan dan pemanfaatan daya kreasi dan daya cipta industri tersebut.Klasifikasi industri kreatif yang ditetapkan oleh tiap negara berbeda-beda. Tidak ada benar dan salah dalam pengklasifikasian industri kreatif. Hal tersebut tergantung dari tujuan analitik dan potensi suatu negara. Industri kreatif terbagi menjadi 14 sektor antara lain periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, busana, video, film, dan fotografi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukan, penerbitan dan percetakan, layanan komputer dan peranti lunak, televisi dan radio, serta riset dan pengembangannya.Kathrin Muller, Christian Rammer, dan Johannes Truby (2008) mengemukakan tiga peran industri kreatif terhadap inovasi ekonomi dalampenelitiannya di Eropa. Yang pertama, industri kreatif adalah sumber utama dari ide-ide inovatif potensial yang berkontribusi terhadap pembangunan/inovasi produk barang dan jasa. Kedua, industri kreatif menawarkan jasa yang dapatdigunakan sebagai input dari aktivitas inovatif perusahaan dan organisasi baikyang berada di dalam lingkungan industri kreatif maupun yang berada diluarindustri kreatif. Terakhir, industri kreatif menggunakan teknologi secara intensif sehingga dapat mendorong inovasi dalam bidang teknologi tersebut.


3.2 SEKTOR DAN PELAKU INDUSTRI KREATIF DI INDONESIA

No Sektor Pelaku Usaha
1 Periklanan Usaha Kecil dan Menengah
2 Arsitektur Usaha Kecil dan Menengah
3 Perdagangan/Pasar Barang Seni Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
4 Kerajinan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
5 Desain Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
6 Fashion Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
7 Video, Film dan Fotografi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
8 Permainan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
9 Musik Usaha Kecil dan Menengah
10 Seni Pertunjukan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
11 Penerbitan dan Percetakan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
12 Layanan Komputer dan Piranti Lunak Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
13 TV dan Radio Usaha Kecil, Menengah dan Besar
14 Riset dan Pengembangan Usaha Menengah dan Besar

 

Peluang Industri Kreatif

Usaha Menengah dan Besar

Peluang Industri Kreatif

Sangat besar dan terbuka luas, cendrung terus menerus meningkat di dalam dan luar negeri

yang disebabkan:

  1. Perubahan nilai, gaya hidup dan perilaku pasar
  2. Permintaan pasar dalam dan luar negeri
  3. Kebinekaan suku bangsa Indonesia dalam kebutuhan dan rasa

Tantangan Industri Kreatif

  1. Pengelolaan usaha umumnya masih tradisional;
  2. Terbatasnya kualitas SDM pengelola;
  3. Terbatasnya kemampuan manajemen dan penggunaan teknologi informasi modern;
  4. Pertumbuhan fluktuatif mengikuti perkembangan pasar;
  5. Kemampuan pemasaran dan akses informasi yang yang terbatas;
  6. Legalitas formal dan perlindungan usaha yang belum memadai (pembajakan/pengurusan atas hak cipta, paten dan merk atas industri kreatif);
  7. Terbatasnya akses kredit kepada lembaga keuangan,khususnya perbankan

Permasalahan Pembiayaan Industri Kreatif

Terbatasnya fasilitasi kredit perbankan pengembangan produk industri kreatiF.

Prosedur dan persyaratan kredit perbankan relatif rumit dan birokratis

Ketidakmampuan dalam menyediakan jaminan tambahan

Tingginya bunga kredit perbankan terutama untuk modal investasi

Terbatasnyan jangkauan pelayanan kredit perbankan di daerah

RENCANA AKSI KEMENTERIAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH

  1. Memberikan prioritas bantuan dan fasilitasi pembiayaan industri di bidang ekonomi kreatif yang sudah layak/mandiri tetapi belum bankable dengan skema pembiayaan yang sesuai.
  • Mengalokasikan dana bantuan sosial perkuatan permodalan bagi kelompok Perempuan dan kelompok pemuda pelaku usaha mikro kecil/koperasi yang bergerak di sub sector industri kreatif;
  • Memfasilitasi penyediaan dan dana APBD Propinsi dan Kab/Kota pos belanja sosial bagi pelaku Industri kreatif skala mikro;
  • Mengkoordinasikan dan memfasilitasi penyediaan dana PKBL bagi pelaku Industri kreatif skala mikro dan kecil;
  1. Memfasilitasi interaksi pelaku industri di bidang ekonomi kreatif dengan lembaga pembiayaan untuk mengembangkan skemapembiayaan yang efektif.
  • Optimalisasi pemanfaatan SUP-005 melalui pengembangan skema pembiayaan spesifik bagi sektor industri kreatif pada LKBB (Pegadaian, PNM, Modal Ventura);
  • Mengembangkan skema pembiayaan LKBB untuk UMKM industri kreatif;
  • Mendukung Pemda memfasilitasi pengembangan skema pembiayaan pada BPD;
  • Pelaksanaan sosialisasi dan informasi skema2 pembiayaan yang tersedia di Perbankan dan LKBB;
  • Mendorong optimalisasi pemanfaatan dana LPDB Kementerian KUKM untuk koperasi dan pelaku usaha Industri kreatif skala UMK;
  • Penyusunan dan penerbitan informasi pembiayaan bagi industri kreatif skala UMK;
  • Peningkatan kapasitas pendamping KKMB bagi UMKM bidang industri kreatif.
  1. Memfasilitasi pertemuan antar pelaku industri di bidang ekonomi kreatif yang membutuhkan biaya dengan lembaga pembiayaan.
  • Penyediaan ruang konsultasi dan informasi pembiayaan antara KKMB, Bank/LKBB dengan pelaku usaha UMKM industri kreatif di setiap Diskop dan UKM Propinsi dan Kab/Kota;
  • Penyelenggaraan klinik konsultasi pembiayaan UMKM indsutri kreatif dengan lembaga keuangan (Bank & LKBB) secara berkala;
  • Memfasilitasi ekspose pelaku industri kreatif yang membutuhkan pembiayaan dengan lembaga keuangan (Bank/LKBB);
  • Mengaktifkan dan mengefektifkan KKMB/pendampingan bagi UMKM industri kreatif;

Sumber: :

http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:tbo1pcwDITkJ:eprints.undip.ac.id/40407/1/UTAMA.pdf+kesimpulan+dan+saran+pengaruh+penyaluran+kredit+mikro+terhadap+perkembangan+ukm+di+bidang+industri+kreatif&cd=3&hl=id&ct=clnk&gl=id

http://www.indonesiakreatif.net/upload/upload/File/26%20juni%20ppki/Presentasi_Agus_Muharam_Kemenkop.pdf

https://kalselventura.wordpress.com/artikel-modal-ventura/makalah-strategi-pengembangan-umkm-dengan-mengatasi-permasalahan-umkm-dalam-mendapatkan-kredit-usaha/

Advertisements

Kredit Mikro BRI

Kredit Usaha Mikro Bank BRI

Kredit mikro sebenarnya bukanlah konsep baru di bidang ekonomi. Konsep ini berawal dari Grameen Bank, yang dirintis oleh Professor Muhammad Yunus di tahun 70’an, yang memberikan pinjaman kecil tanpa jaminan/agunan kepada kaum paling miskin di Bangladesh. Tidaklah mengherankan bila mayoritas peminjamnya pada saat itu adalah wanita (sekitar 95%), yang umumnya tidak memiliki pemasukan tetap yang memadai serta menghadapi banyak keterbatasan untuk mengajukan pinjaman melalui jalur bank atau institusi finansial konvensional. Dewasa ini, bentuk-bentuk kredit mikro sangatlah beragam, seperti yang diulas di situs Grameen Bank. Terlepas dari bentuk operasinya, secara umum yang dimaksud dengan kredit mikro adalah:

Program-program pemberian pinjaman kecil kepada orang-orang yang sangat miskin, untuk memulai wirausaha yang mendatangkan penghasilan, memungkinkan mereka dan keluarganya untuk hidup lebih sejahtera.

Prinsip utama yang melandasi sebuah lembaga kredit mikro (MFI, Micro Finance Institution) idealnya adalah solidaritas terhadap sesama manusia, yang karena situasi terpuruk di jurang kemiskinan. Berikutnya adalah kepercayaan bahwa mereka yang paling miskin, pengangguran, buta huruf, atau cacat pun memiliki keterampilan dan kreativitas yang belum tergali secara optimal. Karena dilandasi prinsip-prinsip inilah, maka operasi kredit mikro juga idealnya berbeda dengan sistem pinjaman bank atau institusi finansial konvensional lainnya. Pada sistem pinjaman bank, setelah mempunyai rencana bisnis yang matang, pemohon kredit datang sendiri ke bank untuk mengajukan pinjaman. Apabila rencana bisnis tersebut dinilai layak untuk didukung, bank akan meminta pemohon kredit memberikan jaminan, yaitu properti yang bisa disita jika pemohon tidak sanggup membayar cicilan/angsuran.

Sebaliknya pada sistem kredit mikro, staf lembaga kredit mikrolah yang mendatangi pemukiman warga miskin, yang umumnya tidak pernah mendengar tentang kredit mikro dan bahkan mungkin tidak pernah mempunyai ide untuk berwirausaha. Staf lembaga kredit mikro akan berusaha menjelaskan konsep kredit mikro secara gamblang. Apabila ada warga yang tertarik untuk menjadi nasabah, maka lembaga kredit mikro akan mempertimbangkan besarnya pinjaman dan cara pengangsuran berdasarkan situasi dan rencana wirausaha mereka. Pinjaman akan diberikan, umumnya kepada pihak kelompok dan bukan ke perorangan, dengan bunga jauh yang lebih rendah dibandingkan bunga bank dan tanpa perlu jaminan. Walau syaratnya terdengar lunak, kredit mikro pada prinsipnya bukanlah kegiatan amal. Memberi donasi, menyumbang barang-barang bekas memang pantas untuk para korban bencana. Namun, kegiatan amal justru akan melanggengkan, bukan memberantas kemiskinan. Kok bisa? Karena dengan terus-menerus menerima bantuan, kaum miskin akan menjadi sangat tergantung dan tidak punya inisiatif sendiri untuk mandiri.

Maka, seorang peminjam kredit mikro juga punya kewajiban untuk mensukseskan wirausahanya dan tepat waktu membayar angsuran ke lembaga kredit mikro yang memberi pinjaman. Walau resiko gagal tetap ada, lembaga kredit mikro umumnya siap mengantisipasi hal ini (akan dibahas di tulisan lainnya). Kesuksesan usaha para peminjam adalah merupakan tujuan lembaga itu juga. Karena, jika usaha tersebut merugi, tidak ada jaminan yang bisa disita dari para peminjam yang notabene adalah orang-orang sangat miskin. Sedangkan lembaga kredit mikro juga perlu mendapat laba untuk melanjutkan dan mengembangkan operasinya. Maka, keduanya ada di perahu yang sama, dan punya kepentingan bersama untuk meraih sukses.

KREDIT MIKRO KUPEDES

Kupedes adalah kredit dengan bunga bersaing yang bersifat umum untuk semua sektor ekonomi, ditujukan untuk individual (badan usaha maupun perorangan) yang memenuhi persyaratan dan dilayani di seluruh BRI Unit dan Teras BRI.

Manfaat

  • Mendukung berbagai keperluan pembiayaan semua jenis usaha dengan memenuhi kebutuhan modal kerja dan investasi.
  • Mendukung pemenuhan kebutuhan lainnya seperti pembiayaan pendidikan, perbaikan rumah, pembelian kendaraan, dsb.
  • Berlaku untuk semua sektor usaha, meliputi pertanian, perdagangan, perindustrian, maupun jasa lainnya.

Keunggulan

  • Bunga bersaing & syarat mudah.
  • Agunan tidak harus bersertifikat.
  • Angsuran sesuai kebutuhan (bulanan / musiman / dll).
  • Biaya administrasi mulai dari Rp 10.000,-
  • Bebas biaya provisi.
  • Bonus bagi debitur yang angsurannya dibayar tepat waktu.
  • syarat dan ketentuan berlaku.

Fasilitas

  • Memperoleh asuransi jiwa kredit.
  • Memperoleh asuransi jiwa, kesehatan, kecelakaan, dan meninggal dunia.
  • Setoran dapat dilakukan di semua BRI Unit maupun melalui EDC Collection.

Bagai mana langkah-langkah pengajuan Kredit Mikro?

LANGKAH-LANGKAH PENGAJUAN PINJAMAN

Untuk langkah-langkah pengajuan pinjaman ini ternyata tidak telalu sulit ataupun merepotkan. Di BRI kita dapat dengan mudah mengajuakan pinjaman kredit mikro, asalkan usaha yang kita ajukan sudah berjalan kurang lebih selama 6 bulan. Mengapa harus usaha yang sudah berjalan?  Karena pinjaman ini adalah bertujuan untuk membantu mengembangkan usaha, dan apabila usaha itu sudah berjalan berarti usaha itu sudah bisa dibilang usaha yng sudah jelas keberadaanya dan dapat dipercaya.

Langkah-langkah :

  • Di BRI kita tidak perlu menyiapkan proposal usaha, proposal usaha hanya diperlukan untuk usaha besar ataupun pinjaman uang diatas 100 juta.
  • Siapkan berkas-berkas yang diperlukan seperti:
  • Foto copy KTP
  • PasPhoto 4×6 (Apabila sudah menikah, lampirkan foto copy surat nikah dan Pas Photo suami-istri)
  • Surat Izin Usaha (SIUP,SITU,dll)
  • Untuk KUR : BPKB motor/mobil
  • Untuk KUPEDES : Surat/Akta Tanah.
  • Temui Customer Service.
  • Ajukan dan jelaskan jenis pinjaman yang kita inginkan.
  • Jelaskan Usaha yang kita punya.
  • Nasabah akan dimintai data keterangan nasabah oleh cutomer service sebagai data dan untuk pemberian informasi selanjutnya ketika ada kegiatan survei.
  • Pihak Bank akan menginformasikan kegiatan survei setelah 2 atau 3 hari setelah pengajuan.
  • Dilakuakanya survei tempat usaha, serta rumah nasabah oleh pihak bank yang disebut dengan mantri. Disini oihak bank akan mengecek tentang kelayakan nasabah dan kejelasan usaha yang anda miliki.
  • Setelah proses survei, pihak bank akan melakukan check nama nasabah di data BI CHECKING. Apakah nasabah ini adalah nasabah yang bermasalah atau tidak.
  • Apbila di BI CHECKING nama nasabah tidak bermasalah, data nasabah akan di kirim kepihak pimpinan cabang atau kepala unit untuk di approve.
  • Pihak bank akan menghubungi nasabah apabila sudah disetujui oleh pihak pimpinan

Berapa banyak Platfond yang ada di Kredit Usaha Mikro?

Platfond Kredit Mikro terbesar pada Bank BRI adalah Rp. 50.000.000 .

Berikut adalah contoh brosur pinjaman Kredit Usaha Mikro Bank BRI KANCA JAKARTA RAWAMANGUN UNIT PULOGADUNG :

 

 

 

 

Kredit UsAha Mikro Bank BRIKredit Usaha Mikro Bank BRI Kredit mikro sebenarnya bukanlah konsep baru di bidang ekonomi. Konsep ini berawal dari Grameen Bank, yang dirintis oleh Professor Muhammad Yunus di tahun 70’an, yang memberikan pinjaman kecil tanpa jaminan/agunan kepada kaum paling miskin di Bangladesh. Tidaklah mengherankan bila mayoritas peminjamnya pada saat itu adalah wanita (sekitar 95%), yang umumnya tidak memiliki pemasukan tetap yang memadai serta menghadapi banyak keterbatasan untuk mengajukan pinjaman melalui jalur bank atau institusi finansial konvensional. Dewasa ini, bentuk-bentuk kredit mikro sangatlah beragam, seperti yang diulas di situs Grameen Bank. Terlepas dari bentuk operasinya, secara umum yang dimaksud dengan kredit mikro adalah: Program-program pemberian pinjaman kecil kepada orang-orang yang sangat miskin, untuk memulai wirausaha yang mendatangkan penghasilan, memungkinkan mereka dan keluarganya untuk hidup lebih sejahtera. Prinsip utama yang melandasi sebuah lembaga kredit mikro (MFI, Micro Finance Institution) idealnya adalah solidaritas terhadap sesama manusia, yang karena situasi terpuruk di jurang kemiskinan. Berikutnya adalah kepercayaan bahwa mereka yang paling miskin, pengangguran, buta huruf, atau cacat pun memiliki keterampilan dan kreativitas yang belum tergali secara optimal. Karena dilandasi prinsip-prinsip inilah, maka operasi kredit mikro juga idealnya berbeda dengan sistem pinjaman bank atau institusi finansial konvensional lainnya. Pada sistem pinjaman bank, setelah mempunyai rencana bisnis yang matang, pemohon kredit datang sendiri ke bank untuk mengajukan pinjaman. Apabila rencana bisnis tersebut dinilai layak untuk didukung, bank akan meminta pemohon kredit memberikan jaminan, yaitu properti yang bisa disita jika pemohon tidak sanggup membayar cicilan/angsuran. Sebaliknya pada sistem kredit mikro, staf lembaga kredit mikrolah yang mendatangi pemukiman warga miskin, yang umumnya tidak pernah mendengar tentang kredit mikro dan bahkan mungkin tidak pernah mempunyai ide untuk berwirausaha. Staf lembaga kredit mikro akan berusaha menjelaskan konsep kredit mikro secara gamblang. Apabila ada warga yang tertarik untuk menjadi nasabah, maka lembaga kredit mikro akan mempertimbangkan besarnya pinjaman dan cara pengangsuran berdasarkan situasi dan rencana wirausaha mereka. Pinjaman akan diberikan, umumnya kepada pihak kelompok dan bukan ke perorangan, dengan bunga jauh yang lebih rendah dibandingkan bunga bank dan tanpa perlu jaminan. Walau syaratnya terdengar lunak, kredit mikro pada prinsipnya bukanlah kegiatan amal. Memberi donasi, menyumbang barang-barang bekas memang pantas untuk para korban bencana. Namun, kegiatan amal justru akan melanggengkan, bukan memberantas kemiskinan. Kok bisa? Karena dengan terus-menerus menerima bantuan, kaum miskin akan menjadi sangat tergantung dan tidak punya inisiatif sendiri untuk mandiri. Maka, seorang peminjam kredit mikro juga punya kewajiban untuk mensukseskan wirausahanya dan tepat waktu membayar angsuran ke lembaga kredit mikro yang memberi pinjaman. Walau resiko gagal tetap ada, lembaga kredit mikro umumnya siap mengantisipasi hal ini (akan dibahas di tulisan lainnya). Kesuksesan usaha para peminjam adalah merupakan tujuan lembaga itu juga. Karena, jika usaha tersebut merugi, tidak ada jaminan yang bisa disita dari para peminjam yang notabene adalah orang-orang sangat miskin. Sedangkan lembaga kredit mikro juga perlu mendapat laba untuk melanjutkan dan mengembangkan operasinya. Maka, keduanya ada di perahu yang sama, dan punya kepentingan bersama untuk meraih sukses. KREDIT MIKRO KUPEDES Kupedes adalah kredit dengan bunga bersaing yang bersifat umum untuk semua sektor ekonomi, ditujukan untuk individual (badan usaha maupun perorangan) yang memenuhi persyaratan dan dilayani di seluruh BRI Unit dan Teras BRI. Manfaat  Mendukung berbagai keperluan pembiayaan semua jenis usaha dengan memenuhi kebutuhan modal kerja dan investasi.  Mendukung pemenuhan kebutuhan lainnya seperti pembiayaan pendidikan, perbaikan rumah, pembelian kendaraan, dsb.  Berlaku untuk semua sektor usaha, meliputi pertanian, perdagangan, perindustrian, maupun jasa lainnya. Keunggulan  Bunga bersaing & syarat mudah.  Agunan tidak harus bersertifikat.  Angsuran sesuai kebutuhan (bulanan / musiman / dll).  Biaya administrasi mulai dari Rp 10.000,-  Bebas biaya provisi.  Bonus bagi debitur yang angsurannya dibayar tepat waktu.  syarat dan ketentuan berlaku. Fasilitas  Memperoleh asuransi jiwa kredit.  Memperoleh asuransi jiwa, kesehatan, kecelakaan, dan meninggal dunia.  Setoran dapat dilakukan di semua BRI Unit maupun melalui EDC Collection. Bagai mana langkah-langkah pengajuan Kredit Mikro? LANGKAH-LANGKAH PENGAJUAN PINJAMAN Untuk langkah-langkah pengajuan pinjaman ini ternyata tidak telalu sulit ataupun merepotkan. Di BRI kita dapat dengan mudah mengajuakan pinjaman kredit mikro, asalkan usaha yang kita ajukan sudah berjalan kurang lebih selama 6 bulan. Mengapa harus usaha yang sudah berjalan? Karena pinjaman ini adalah bertujuan untuk membantu mengembangkan usaha, dan apabila usaha itu sudah berjalan berarti usaha itu sudah bisa dibilang usaha yng sudah jelas keberadaanya dan dapat dipercaya. Langkah-langkah :  Di BRI kita tidak perlu menyiapkan proposal usaha, proposal usaha hanya diperlukan untuk usaha besar ataupun pinjaman uang diatas 100 juta.  Siapkan berkas-berkas yang diperlukan seperti: • Foto copy KTP • PasPhoto 4×6 (Apabila sudah menikah, lampirkan foto copy surat nikah dan Pas Photo suami-istri) • Surat Izin Usaha (SIUP,SITU,dll) • Untuk KUR : BPKB motor/mobil • Untuk KUPEDES : Surat/Akta Tanah.  Temui Customer Service.  Ajukan dan jelaskan jenis pinjaman yang kita inginkan.  Jelaskan Usaha yang kita punya.  Nasabah akan dimintai data keterangan nasabah oleh cutomer service sebagai data dan untuk pemberian informasi selanjutnya ketika ada kegiatan survei.  Pihak Bank akan menginformasikan kegiatan survei setelah 2 atau 3 hari setelah pengajuan.  Dilakuakanya survei tempat usaha, serta rumah nasabah oleh pihak bank yang disebut dengan mantri. Disini oihak bank akan mengecek tentang kelayakan nasabah dan kejelasan usaha yang anda miliki.  Setelah proses survei, pihak bank akan melakukan check nama nasabah di data BI CHECKING. Apakah nasabah ini adalah nasabah yang bermasalah atau tidak.  Apbila di BI CHECKING nama nasabah tidak bermasalah, data nasabah akan di kirim kepihak pimpinan cabang atau kepala unit untuk di approve.  Pihak bank akan menghubungi nasabah apabila sudah disetujui oleh pihak pimpinan Berapa banyak Platfond yang ada di Kredit Usaha Mikro? Platfond Kredit Mikro terbesar pada Bank BRI adalah Rp. 50.000.000 . Berikut adalah contoh brosur pinjaman Kredit Usaha Mikro Bank BRI KANCA JAKARTA RAWAMANGUN UNIT PULOGADUNG :