KOORDINASI VISUAL MOTORIK

KOORDINASI VISUAL MOTORIK

 A.KOORDINASI VISUAL MOTORIK

 

a.Pengertian visual

Sistem visual manusia terdiri dari mata, beberapa bagian di otak, dan jalur yang menghubungkan mereka. Visual menurut kamus lengkap psikologi J.P. Chaplin adalah menyinggung penglihatan atau daya lihat.

 

b.Pengertian motorik

Motorik adalah pengendalian gerakan jasmani melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf, dan otot yang terkoordinasi (Elizabeth B. Hurlock, 1978)

 

c.Koordinasi visual motorik

Koordinasi visual motorik merupakan gabungan antara pengendalian gerakan jasmaniah dengan aspek visual.

 

d. Hal-hal yang dapat mempengaruhi visual-motorik

Koordinasi visual motorik seseorang dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain konsentrasi terhadap suatu obyek. Hal ini juga sangat mempengaruhi ketenangan seseorang dalam melaksanakan tugas yang diberikan. Juga berpengaruh terhadap banyaknya waktu yang dibutuhkan dalam mengerjakan tugas tersebut. Koordinasi visual motorik ini dapat juga dipengaruhi oleh stimulus lain disekitarnya yang mungkin dapat mengacaukan konsentrasi seseorang. Sedangkan menurut ( Elizabeth B Harlock) ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi visual motorik, di antaranya adalah :

  1. lingkungan
  2. fisik
  3. mental
  4. kemampuan mengendalikan tubuh

Seandainya tidak ada gangguan lingkungan atau fisik atau hambatan mental yang mengganggu perkembangan motorik, secara normal seseorang akan siap menyesuaikan diri dengan lingkungannya (Hurlock, 1978).

PERSPEKTIF DASAR

Psikologi Eksperimen adalah cabang Psikologi yang mengkaji proses sensing, perceiving, learning, and thinking about the world.

Dalam konteks positivisme, atau empiricism, pengamatan/observasi atas proses-proses itu dilakukan dengan metode eksperimen sebagai a method or logic inquiry yang diandalkan untuk merinci (description), menjelaskan (explanation), meramalkan (prediction), dan mengendalikan (control) secara semakin akurat/precise proses-proses itu sendiri sebagai realitas.

Realitas-realitas yang saling berasosisasi, bahkan dipercaya/belief memuat the notion of determinism, bahwa perilaku pastilah bersebab, atau memliki determinan. Hanya saja realitas di sini dan sekarang (here and now) tidak dimengerti dengan pendekatan-pendekatan tenacity, intuition, authority, bahkan tidak dengan rationalism, tetapi sekali lagi dengan metode eksperimen. Jadi Psikologi Eksperimen bukan metode eksperimen itu sendiri, walau metode ini adalah satu-satunya andalannya, tetapi pertama-tama tetaplah acquiring knowledge about psychological realities.

Metode eksperimen hanyalah more acceptable means karena alat/ means ini menjamin objective observation, yaitu pengamatan yang independent of opinion or bias. Perlu diingat, yang dimaksud dengan metode eksperimen di sini adalah suatu methodology (yang memuat urutan unsur-unsur logic of inquiry mulai dari unsur identify problem and form hypothesis, unsur design experiment, unsur conduct experiment, unsur test hypothesis, sampai dengan unsur write reasearch report), bukan techniques, yang sebenarnya hanyalah specific manners in which scientif method is implemented.

metode-metode lain selain metode eksperimen, yaitu metode deskriptif, yang bermaksud menyelenggarakan deskripsi atau gambaran tentang suatu situasi, kejadian, atau kumpulan kejadian secara khusus/ partikular. Termasuk ke dalam metode deskriptif adalah naturalistic observation, secondary records, dan field studies yang terdiri atas setidaknya 4 metode: participant observation, survey (survey, correlational studies, longitudinal and cross-sectional studies), ex post facto studies, dan meta analyisis.

 

Tentu, metode eksperimen adalah terbaik, sejauh menjadi metode yang mampu menjamin bisa diketahuinya hubungan/asosiasi sebab-akibat di antara realitas-realitas.
Tidak berarti metode eksperimen tidak memiliki kekurangannya. Kekurangannya adalah, karena cenderung dilakukan di labolatorium, maka hasilnya sangat exclusive, dalam arti hanya bisa dibenarkan (dilegitimasikan) untuk ekesperimen itu saja. Diragukan bisa digunakan hasilnya untuk populasi yang lebih besar.
Ada masalah besar dalam hal external validity. Agar terjadi external validity, oerlu diusahakan kehadiran: population validity, ecological validity, dan temporal validity. Tentu perlu diingat adanya inverse relationship antara internal validity dan external validity: bila validitas eksternal meningkat, validitas internal cenderung terkurbankan, begitu sebaliknya.
Metode sebagai alat adalah memang salah satu bagian integral keilmiahan. Tetapi yang paling penting untuk integritas kebenaran ilmu adalah sikap ilmiah ilmuwannya sendiri, untuk senantiasa menjaga diri agar tetap memiliki: curiosity, patience, objectivity, dan change. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s